Rabu, 18 Januari 2012

Almanya, Welcome to Germany (2011) Suka Duka, Benturan Budaya Imigran Turki di Jerman


Sutradara:  Yasemin Şamdereli
Naskah: Yasemin Şamdereli, Nesrin  Şamdereli
Bahasa: Turki, Jerman
Genre: Drama, Komedi
Pemain:
Vedat Erincin (Hüseyin)
Fahri Ogün Yardım (Hüseyin muda)
Lilay Huser (Fatma)
Demet Gül (Fatma muda)
Aykut Kayacık  (Veli)
Aycan Vardar (Veli muda)
Ercan Karacayli (Muhammed)
Kaan Aydogdu (Muhammed muda)
Şiir Eloğlu (leyla)
Aliya Artuc (Leyla muda)
Petra Schmidt (Gabi)
David Moschitto (Ali)
Aylin Tezel (Canan)
Trystan Pütter (David)
Rafael Koussouris (Cenk)
Durasi: 97 menit

Sinopsis:
Hüseyin yang mencoba peruntungan menjadi imigran Turki dari Anatolia
ke Jerman di tahun 1964. Setelah berhasil meyakinkan istrinya Fatma
dan 3 orang anaknya Muhammad, Veli dan Leyla untuk pindah ke Almanya
(Jerman dalam Bahasa Turki). Setelah 45 tahun tinggal di Jerman
barulah Hüseyin dan Fatma yakin untuk menjadi Warga Negara Jerman.
Meski masih dihantui ketakutan-ketakutan syarat menjadi WNJ yang tidak
masuk akal seperti makan babi dan berdandan ala Jerman.

Keturunan mereka pun mengalami benturan budaya dan mempertanyakan
identitas mereka apakah Jerman atau Turki. Kejutan terjadi ketika
Hüseyin membeli rumah di tanah leluhur mereka.

Masalah lain timbul ketika Canan cucu Hüseyn hamil atas hubungan gelap
dengan David, serta Cenk yang begitu tertarik dengan riwayat kakeknya
sejak dulu di Turki ketika dia mulai mempertanyakan identitas asal
usulnya.

Ulasan:

Film tentang imigran timur tengah di Eropa selalu menarik. Bila di
Prancis warna Aljazair dan Maroko begitu kental mewarnai sinema
Perancis berlatar Imigran seperti Le Grand Voyage (2004), Day of Glory
(2006), Adhen (2008), dll sementara di Jerman unsur Turki begitu
kental Sineas Fatih Akin Head On (2004), The Edge of Heaven (2007)
dll.  atau komedian Hilmi Sözer. When We Leave (2008) juga merupakan
film berlatar budaya Turki yang kontroversial.

Penggambaran komedi yang rasis nan berlebihan memang digambarkan film
ini yang cukup liberal sampai ada adegan Kristus menghantui di dapur,
atau 'natal' ala Turki. Orang jerman di mata orang Turki pada tahun
70an adalah hanya makan kentang dan babi, birokrasi yang dipenuhi
stempel, sanitasi yang penuh penyakit, kanibalisme dalam Perjamuan
Kudus yang memakan roti tubuh kristus.

Seperti biasa generasi muda Turki-Jerman juga akan dihadapkan dengan
pertanyaan tentang identitas dan pergaulan bebas ala eropa. Orang tua
yang cenderung masih konservatif bila tak pintar pintar dalam
berkomunikasi dan mengikuti kehidupan pergaulan remaja terkini niscaya
akan menyebabkan gangguan hubungan dengan anak.

Pada dasarnya film ini lebih menjelaskan bagaimana Hüseyin ingin lebih
mengenalkan dan mengajak keturunannya kepada tanah leluhur dan
perjuangan untuk kehidupan lebih baik serta menjaga tradisi. Hal itu
diharapkan membantu menghapus kegamangan keturunannya atas
identitasnya.

Film ini menarik untuk kita lebih menghargai perbedaan budaya, meski
dengan cara satire. Gambar-gambar indah alam Turki dan penggambaran rekam
 jejak napak Tilas  Hüseyin sejak muda awal pertemuan dengan fatma pengalaman 
pertama di Jerman bersama anak-anak menarik dan menggelitik.  Makna kehangatan 
keluarga dan keluarga selalu siap menerima kita apapun kondisi masalah kita. 
Keharuan mewarnaiadegan-adegan di akhir cerita. Ya apapun yang akan kita lakukan dalam
bertindak selalu ingatlah keluarga terlebih dahulu setelah Tuhan.



Rating: 8/10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar